Lewati ke isi
Psikologi untuk dibaca semua orang.

Abraham Maslow: Humanis yang Lahir dari Kisah Getir Masa Kecil

Salah satu tokoh termasyhur dalam sejarah psikologi, Abraham Maslow.

Siapapun yang belajar psikologi pasti pernah mendengar istilah aktualisasi diri (self-actualization), bahkan non psikologi pun sering mendengar istilah tersebut. Aktualisasi diri adalah satu dari sekian banyak ajaran Maslow, tidak main-main ajaran Maslow pun memiliki pengaruh cukup besar dalam perkembangan psikologi.

Dibalik mazhab psikologi saat itu, kehadiran psikologi humanistik yang dituangkan dari ide-ide Maslow menjadi angin segar bagi dunia psikologi. Di tengah riuh dan gejolaknya aliran behaviorisme kala itu, Maslow hadir menawarkan sebuah pandangan positivistik dalam melihat manusia.

Sebuah keyakinan yang hakiki dan nilai baik dari seseorang sangat tercermin dari segala ajaran Maslow, ia pun dikenal sebagai tokoh psikologi yang humanis. Gelar humanis untuk Maslow memang tidak main-main, semuanya tercermin dari kontribusinya terhadap teori psikologi.

Maslow mencetuskan Hierarki Kebutuhan. Sudut pandang ini melihat manusia lebih positif, dan pada dasarnya manusia memiliki beberapa kebutuhan yang mendasari ia untuk bertindak. Pada Hierarki Kebutuhan Maslow, terdapat piramida yang menunjukan sebuah tingkatan dari kebutuhan manusia.

Sebelum membahas bagaimana dan apa itu Hierarki Kebutuhan Maslow serta berbagai temuan teoritik dari Maslow, rasanya perlu kita untuk berkenalan lebih jauh bagaimana dan siapa Abraham Maslow.

Biografi Singkat

Lahir dan tumbuh di Brooklyn, New York pada 1908. Maslow merupakan anak tertua dari tujuh bersaudara. Orang tua Maslow merupakan imigran dari Kiev, yang saat itu merupakan bagian dari Uni Soviet.

Pada saat itu muncul persekusi terhadap orang tua Maslow. Kemudian, kedua orang tua Maslow mencari penghidupan layak dan menghindari persekusi di negaranya terdahulu. Akhirnya, mereka merantau ke Amerika. Di zamannya, Amerika terkenal dengan istilah the land of hope.

New York adalah tempat multi etnik berkumpul, dan berbagai kelas pekerja ada di sana. New York tentu tidak terlepas dari tindakan diskriminasi kala itu. Masa kecil Maslow dipenuhi dengan tindakan penuh rasisme, berhubung Maslow merupakan keturunan Yahudi maka ia banyak terkena perilaku anti-semit.

Kegetiran yang dirasakan Maslow tidak hanya di luar rumah saja. Kala itu Maslow sering mendapatkan perilaku tidak menyenangkan di dalam rumah, seringkali ia merasakan ketidakhangatan di rumahnya, sehingga Maslow merasa tidak memiliki kedekatan dengan keluarganya, terutama sang ibu.

Banyaknya tindakan rasisme yang dirasakan oleh Maslow dan masyarakat, membuat Maslow dan anak muda lainnya melakukan sebuah aksi untuk melawan tindakan rasisme dan prasangka etnis dengan mewujudkan dunia yang adil akan pendidikan dan ekonomi.

Maslow menjadi anak yang cerdas, ia tumbuh dan dibesarkan oleh buku-buku yang dibaca di perpustakaan. Maslow benar-benar menjadi anak yang brilian, acapkali ia mendapatkan penghargaan akademik, semasa mudanya ia pun aktif di berbagai kegiatan akademik, bahkan sempat menjadi sebuah editor di sebuah majalah latin.

Maslow pun melanjutkan studinya ke jenjang kuliah, ia mengambil jurusan psikologi. Selama kuliah Maslow telah menunjukan ketertarikan pada positif mindset, oleh karena itu benih-benih psikologi positif sudah muncul dari bangku kuliahnya.

Setelah perang dunia dua menjadi titik balik Maslow dalam mencetuskan suatu aliran baru dalam psikologi, yakni Psikologi Humanistik. Melihat betapa besar dampak psikologi dari perang dunia, membuat Maslow merasakan perlu suatu cara menyelesaikan fenomena traumatik tersebut.

Beberapa temuannya merujuk pada penjelasan aktualisasi diri dan melihat manusia lebih humanis serta positif. Berdasarkan banyaknya kontribusi, ia sangat dihargai dalam dunia akademik psikologi. Maslow pun diangkat menjadi profesor di Universitas Brandeis pada tahun 1951.

Menariknya, Maslow menolak menjadi nominasi dalam pemilihan presiden di Asosiasi Psikologi Humanistik (Association for Humanistic Psychology). Maslow menyatakan bahwa Asosiasi tersebut harus mengembangkan gerakan intelektual tanpa adanya dia sebagai pelopor psikologi humanistik. Hal ini sesuai dengan pernyataan sebelumnya mengenai bahwa ia tidak ingin mengintervensi berkembangnya psikologi humanistik. Maslow telah membuat banyak kerangka berpikir, dan ia menyerahkan hal tersebut untuk dikembangkan oleh generasi seterusnya tanpa adanya intervensi Maslow sendiri.

Masa tua Maslow menjadi terbatas ruang geraknya karena ia mengidap sakit jantung, dan kemudian ia meninggal pada usia 62 tahun karena sakit jantung.

Kontribusi Maslow pada Psikologi

Psikologi Humanistik

Di masanya psikologi penuh dengan pembahasan pada abnormal dan “sakit,” kemudian Maslow menawarkan sebuah pandangan positif. Ia ingin membangun mental yang sehat melalui pandangan positiif dengan psikologi humanisitik, ia menekankan pada kekuatan dalam diri dan mengembangkan untuk mengatasi segala hambatan mental yang dihadapi.

Perkembangan untuk menguatkan kekuatan dalam diri untuk mengatasi masalah tersebut juga dilanjutkan oleh Carl Rogers menjadi sebuah terapi client-centered (sebuah terapi yang menggali kekuatan dalam diri dalam mengatasi hambatan).

Psikologi humanistik sangat mengedepankan pada sisi free will seseorang. Apapun yang terjadi dan dirasakan merupakan tanggung jawab pribadi, sehingga untuk mengatasinya pun berdasarkan  kekuatan dalam diri. Teori ini tentu bertolak belakang dengan pandangan Freudian.

Walaupun kehadiran psikologi humanistik memberikan arah baru untuk psikologi kala itu, tapi tetap adanya kritik yang dilontarkan untuk psikologi humanistik. Psikologi humanistik dipandang kurang menekankan pada sisi empiris, terutama dalam menjelaskan kekuatan dalam diri seperti aktualisasi diri. Karena hal tersebut dinilai terlalu subjektif dan sulit digeneralisasi sebagai bentuk empiris.

Hierarki Kebutuhan Maslow

Teori ini menjelaskan motivasi seseorang terbagi ke dalam lima tingkat kebutuhan manusia, dan seringkali tergambarkan ke dalam bentuk piramida. Kebutuhan awal harus terpenuhi baru bisa memasuki kebutuhan berikutnya. Sebagai contoh, dalam hierarki awal dijelaskan manusia membutuhkan faktor fisiologis agar terpenuhi, yakni makan, minum, tempat tinggal, tidur, baju dll. Setelah itu baru memungkinkan untuk memasuki tahap selanjutnya yakni kebutuhan keamanan (safety needs). Begitu dan seterusnya hingga memasuki tahap aktualisasi diri.

Urutan hierarki tersebut dari bawah ke atas yakni:

  • Fisiologis (physiological needs), yakni kebutuhan dasar manusia terkait makan, minum, tempat tinggal/berteduh, pakaian, tidur, dan reproduksi. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan paling mendasar yang harus dipenuhi oleh manusia, tanpa terpenuhi kebutuhan awal ini akan sangat sulit seseorang menjalankan kehidupannya.

  • Keamanan (safety needs), kebutuhan selanjutnya mengenai rasa aman dan terjaga. Baik terjaga/aman dari sisi personal, pekerjaan, sumber daya, kesehatan dan properti. Kebutuhan yang seharusnya dipenuhi setelah kebutuhan dasar seperti makan, minum dll.

  • Cinta dan kasih sayang (love and belonging needs), pada tahap ini memasuki terpenuhinya kepuasan akan hubungan interpersonal dengan orang lain, baik dari rasa cinta, kasih sayang atau rasa dimiliki. Intimasi yang terbangun dari keluarga, teman, dan masyarakat menjadi pemicu pada kebutuhan ni.

  • Penghargaan (esteem needs), kebutuhan untuk dihargai oleh orang lain, seperti halnya merasa dihargai, diakui, dan memiliki kebebasan pada individu. Status menjadi tolak ukur seseorang dalam menggapai kebutuhan ini, semakin diakui status, maka semakin terpenuhi kebutuhan pada tahap ini.

  • aktualisasi diri (self actualization). Merupakan tahap puncak dari kebutuhan Maslow. Pada tahap ini seseorang mencapai sebuah puncak potensi sebagai manusia. Meskipun penjelasan pada tahap ini akan teramat abstrak dan penuh perdebatan untuk menentukan kategori aktualisasi diri tersebut.

Dalam perkembangan akhir-akhir ini, kebutuhan Maslow pun tidak hanya sampai pada lima tingkat saja. terdapat tambahan mengenai tingkat kebutuhan Maslow tersebut. Seperti kebutuhan akan kognitif (cognitive need), estetis (aesthetic needs), dan transenden (transcendence needs).

Penambahan kebutuhan Maslow tersebut menunjukan bahwa teori Maslow ini terus berkembang, sesuai dengan keinginan Maslow kala itu yang berharap agar psikologi dapat mengembangkan diri sejauh mungkin, tanpa harus terjebak oleh kerangka berpikir lama.

Demikian perkenalan singkat akan Abraham Maslow sang tokoh humanis yang berharap mampu mengubah dunia menjadi lebih adil dan berdaya. Terima kasih banyak Maslow atas kontribusi dan inspirasinya, pandangan humanis pada manusia akan sangat erat dengan psikologi.

Referensi

Hoffman, E. (1988). The right to be human: A biography of Abraham Maslow. Los Angeles, CA: Jeremy P. Tarcher.

Kenrick, D. T., Neuberg, S. L., Griskevicius, V., Becker, D. V., & Schaller, M. (2010). Goal-driven cognition and functional behaviour: The fundamental-motives framework. Current Directions in Psychological Science, 19(1), 63-67.

Tay, L., & Diener, E. (2011). Needs and subjective well-being around the world.* Journal of Personality and Social Psychology, 101(2)*, 354-356. doi:10.1037/a00