Lewati ke isi
Psikologi untuk dibaca semua orang.

Penggunaan Plastik Sekali Pakai, Dilemanya Berkali-kali

Akhir-akhir ini kita sering dihadapi pertanyaan mengenai penggunaan tas guna ulang atau plastik sekali pakai. Keduanya memiliki karakteristik, dan plus-minus masing-masing. Tas guna ulang merupakan produk alternatif dari plastik sekali pakai yang berdampak buruk bagi lingkungan.

Tas guna ulang hadir sebagai solusi dalam mengurangi konsumsi plastik sekali pakai di keseharian. Mengubah kebiasaan mengganti plastik sekali pakai ke tas guna ulang ternyata tidaklah mudah. Meskipun berbagai gerakan dan organisasi sudah berkampanye untuk beralih ke tas guna ulang.

Pengetahuan mengenai dampak bahaya plastik dapat dengan mudah didapatkan di mana-mana. Namun, ketika kita dihadapkan oleh kedua pilihan tersebut antara tas guna ulang dan plastik sekali pakai, masih di antara kita tetap menggunakan plastik. Padahal (mungkin saja) sebagian dari kita tahu dampak buruk plastik.

Dihadapi oleh dua pilihan, tidak hanya terjadi pada penggunaan tas guna ulang atau plastik sekali pakai saja. Di banyak kesempatan sering kali mengalami untuk mengambil keputusan di antara dua pilihan yang menggugah perasaan ketika memilih. Keadaan tersebut dapat dikenal juga sebagai dilema sosial.

Dilema Sosial (Social Dilemma)

Dilema sosial merupakan keadaan seseorang ketika harus memutuskan dua pilihan, dan kedua pilihan tersebut memiliki pertimbangan yang bertolak belakang.

Jika kita berkaca pada pilihan plastik sekali pakai dan tas guna ulang. Terkadang seseorang akan mengambil keputusan yang menguntungkan atau memudahkan diri sendiri, dan cenderung mengabaikan dampak jangka panjang. Sama halnya dengan penggunaan plastik sekali pakai yang mana memiliki manfaat dan kemudahan jangka pendek (seperti kemudahan membawa barang belanja saat itu juga).

Kondisi praktis yang timbul dari penggunaan plastik sekali pakai merupakan dampak yang kita terima sebagai pengguna, tetapi dampak yang terjadi di jangka panjang adalah kerusakan lingkungan.

Selain menggunakan plastik sekali pakai, sesungguhnya terdapat pilihan lain yakni, membawa tas guna ulang. Namun, menggunakan tas guna ulang memerlukan upaya lebih, yakni harus menyediakan dan membawa tas tersebut ke mana-mana.

Kedua pilihan tersebut memiliki dua paradigma yang berbeda. Pertama, memikirkan tentang kemudahan secara jangka pendek untuk diri sendiri (dalam hal ini memilih plastik sekali pakai). Kedua, berdasarkan pertimbangan jangka panjang yang menguntungkan kepentingan yang lebih besar yaitu lingkungan (memilih tas guna ulang).

Manusia sering kali dihadapi dalam dua pilihan, yaitu pilihan untuk mendapatkan keuntungan/kemudahan pribadi dan pilihan selanjutnya yang memikirkan dampak/keuntungan di masa depan.

Dilema sosial memaksa kita untuk memilih salah satu keputusan. Pilihan dalam dilema sosial disebut sebagai defection dan cooperation.

Defection

Perilaku di mana melakukan pengambilan keputusan untuk mementingkan kepentingan pribadi dalam jangka pendek, yang mana hal ini mengabaikan kepentingan publik yang lebih besar.

Pilihan ini pun lebih mementingkan kenikmatan pribadi (private benefit) dibandingkan dengan kepentingan umum (public benefit). Seperti lebih memilih menggunakan kantong plastik karena mudah dan praktis, tetapi berdampak buruk bagi lingkungan (kepentingan umum di masa depan).

Perilaku defection memikirkan periode jangka pendek, seseorang akan mengambil pilihan ini karena kenikmatan yang diperoleh langsung saat itu juga (untuk dirinya sendiri/private benefit). Dampak buruk di masa depan tidak menjadi pertimbangan bagi seseorang yang mengambil keputusan defection.

Cooperation

Perilaku ini sebaliknya berbeda dari sebelumnya. Keputusan yang diambil adalah meningkatkan kepentingan umum (public benefit) secara jangka panjang dibandingkan dengan kepentingan pribadi (private benefit) di jangka pendek.

Paradigma pada keputusan ini adalah keadaan jangka panjang di masa depan dalam konteks kepentingan umum. Seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, karena plastik mampu merusak lingkungan di masa depan. Meskipun demikian, pada tahap ini pengambil keputusan cooperation biasanya rela kehilangan kenikmatan pribadi.

Tidak menggunakan plastik sekali pakai bertujuan untuk kebaikan di masa depan, yaitu mencegah kerusakan lingkungan. Keadaan kooperatif ini diperlukan gerakan bersama oleh mayoritas agar kepentingan umum tercapai di masa depan.

Menyelamatkan lingkungan tidak bisa hanya satu atau dua orang yang berpikir koperatif, melainkan membutuhkan kerja sama dari seluruh elemen masyarakat. Dengan begitu dapat mencapai kepentingan umum yang lebih besar, yakni menyelamatkan alam dari kerusakan.

Bijak Mengambil Keputusan

Sering kali kita dihadapi oleh dua pilihan yang memiliki dampak berbeda seperti dilema sosial saat menggunakan plastik sekali pakai atau tas guna ulang. Keadaan dilema sosial tidak hanya itu. Banyak keputusan sehari-hari yang memiliki dilema sosial.

Jadi, jika dihadapi sebuah keputusan yang mampu menimbulkan dilema sosial, apa yang akan kamu lakukan?

Mementingkan kepentingan umum atau pribadi?

Semua itu kembali lagi kepada kita. Dan perlu disadari bahwa setiap tindakan kita memiliki konsekuensi dan dampak bagi kehidupan ini.

Sebab itu, kita perlu bijak dalam mengambil keputusan.

Referensi

Fujii, S. (2017). Prescription for Social Dilemmas –  Psychology for Urban, Transportation, and Environmental Problems. Kyoto. Springer.