Efek Martir sebagai Salah Satu Faktor Kontribusi Peningkatan Prososial Seseorang
Perilaku tolong menolong atau pro-sosial sering kita temui di mana mana. Berbagai bentuk atau aktivitas terkait pro-sosial tercermin ke dalam berbagai hal, misalnya; menolong seseorang yang terjatuh, memberikan petunjuk pada pelancong yang tersesat, atau memberikan sumbangan kepada yang membutuhkan.
Tolong menolong telah terjadi secara turun temurun, bahkan sering kali terejawantah ke ritual atau nilai budaya, seperti kita kenal Indonesia dengan nilai gotong royong. Nilai-nilai pro-sosial yang terkandung ke dalam aktivitas budaya merupakan bukti kegiatan tolong menolong tidak bisa terlepaskan dari kehidupan manusia.
Jika menelisik dari sudut pandang psikologi evolusioner, perilaku menolong merupakan cara untuk bertahan hidup secara sosial/kelompok. Bila membahas istilah kin selection atau perilaku menolong terkait orang lain yang memiliki kesamaan (keturunan, kerabat, relasi terdekat, dll), maka perilaku pro-sosial tersebut adalah cara untuk menyelamatkan orang terkasih dalam menghadapi segala permasalahan agar dapat bertahan hidup di dunia ini.
Namun, perilaku menolong tidak hanya terhadap seseorang yang memiliki hubungan dengan kita. Terdapat juga perilaku menolong seperti altruisme, di mana menolong tanpa pamrih, tanpa melihat latar belakang, dan bertujuan membantu orang lain dengan tulus.
Baik kin selection atau altruisme telah menunjukan bahwa manusia tidak bisa lepas dari perilaku tolong menolong. Ada banyak alasan untuk setiap manusia dalam tolong menolong tersebut. Pada artikel ini mungkin tidak akan membahas perilaku tolong menolong dari sudut pandang kin selection atau altruisme, tetapi dari sisi pengorbanan atau penderitaan dalam meningkatkan pro-sosial.
Pengorbanan dan penderitaan juga merupakan epos yang sering kita dengar di berbagai kisah. Cerita heroik penuh drama kepahlawanan akan mengangkat sisi pengorbanan sang tokoh dalam menolong atau membantu menyelesaikan suatu permasalahan. Sesungguhnya, bagian dari pengorbanan tersebut merupakan bahan bakar dalam perilaku tolong menolong.
Hal ini menjadi menarik, karena sejauh mana seseorang mau terlibat lebih jauh dengan perilaku tolong menolong, dan selain kin selection atau altruisme yang mampu mendorong seseorang untuk menolong. Pengorbanan atau proses penuh penderitaan merupakan sisi menarik yang tak lepas dari setiap kehidupan manusia, dan ternyata hal ini mampu memicu seseorang untuk terlibat lebih jauh dalam perilaku tolong menolong.
Sadar atau tidak, terkadang kegiatan yang memicu penderitaan dan usaha yang menekankan pada proses penuh tantangan dapat meningkatkan kontribusi dalam perilaku prososial, bahkan dari beberapa penelitian menyatakan seseorang akan menikmati proses kontribusi ketika tolong menolong jika terdapat aksi yang melibatkan “penderitaan”.
Mungkin, di antara kita akan merasa keheranan dengan fenomena tersebut. Mengapa seseorang cenderung melakukan pro-sosial ketika melibatkan penderitaan dalam prosesnya?
Fenomena tersebut ialah martyrdom effect (efek martir). Efek martir merupakan keterlibatan seseorang untuk merasakan “penderitaan” atas apa yang mereka percaya dan peduli. Martir juga merupakan sebuah simbol perjuangan dan pengorbanan di berbagai epos kepahlawanan.
Efek Martir (Martyrdom Effect)
Segala bentuk kegiatan yang terkandung efek martir sebenarnya kerap terjadi. Sebagai contoh, pendemo yang mogok makan agar keinginannya terpenuhi, atau kegiatan amal yang melibatkan suatu kegiatan penuh usaha menyusahkan, seperti; aksi amal yang melibatkan maraton, atau dikenal dengan running for donation. Yang mana sebenarnya aksi amal tanpa melibatkan maraton bisa saja dilakukan, tetapi mengapa perlu melibatkan aksi berlari puluhan kilometer untuk berdonasi?
Ternyata, kegiatan amal yang melibatkan hal-hal sulit tersebut mampu meningkatkan nilai donasi yang diterima. Selain itu, ada juga misalnya kegiatan amal yang harus mencukur rambutnya menjadi botak (tentu tidak semua orang suka dengan gaya rambut botak ini kan) yaitu shave for hope yang dilakukan oleh yayasan kanker Pita Kuning. Rambut plontos tersebut sebagai simbol merasakan penderitaan yang sama pada anak-anak penderita kanker yang menjadi gundul karena kemoterapi. Dan tak disangka jumlah donasi pada shave for hope tersebut memiliki angka yang fantastis.
Rasa pengorbanan tersebut yang disebut sebagai efek martir dapat memicu perilaku pro-sosial, yang ditandai dengan menambah jumlah donasi di kegiatan amal tersebut. Efek martir memicu rasa luhur dari pengorbanan dalam menolong seseorang. Di psikologi efek martir atau martyrdom effect juga menjadi pembahasan.
Efek martir memberikan nilai tambah pada sebuah perjuangan dan pengorbanan yang telah dilakukan. Dalam sebuah kegiatan penggalangan dana yang melibatkan aksi untuk “menderita” akan meningkatkan jumlah donasi yang didapat dibandingkan dengan penggalangan dana tanpa efek martir tersebut.
Kata martyr dalam Kamus Oxford yang memiliki makna, “seseorang yang mendapatkan rasa penderitaan yang luar biasa atas kepercayaan, atau keyakinan yang ia anut”. Menganut penjelasan tersebut, martyrdom effect (efek martir) merupakan suatu aksi yang menanggung sebuah penderitaan dalam berjuang.
Dengan adanya efek martir tersebut memberikan sebuah makna untuk mendorong seseorang merasakan sebuah nilai dan keyakinan yang bermakna untuk diperjuangkan. Efek martir pun dilakukan di berbagai kegiatan untuk memperjuangkan sesuatu hal.
Salah satu mengapa efek martir menjadi begitu berarti karena di dalamnya ada derita (pain) dan usaha lebih (effort) yang mampu memunculkan sebuah nilai (value) penuh arti. Kegiatan yang penuh arti atau bermakna merupakan dorongan besar manusia dalam menemukan kebermaknaan hidupnya. Kebermaknaan tersebutlah yang menjadi tujuan dari manusia, meski harus melewati kegiatan penuh pengorbanan atau derita.
Sebuah Usaha dan Derita adalah Sumber Nilai Tak Berharga
Makna dan nilai yang dihasilkan dengan susah payah dan rasa sakit berlebih tersebut seseorang mereka bertahan untuk mencapai tujuan. Nilai atau makna yang dikejar merupakan energi untuk bertahan menghadapi penderitaan dan kesulitan. Rasa percaya pada pencapaian yang lebih berharga dari penderitaan yang dirasakan adalah buah keberhasilan yang patut diperjuangkan.
Ketika seseorang dapat mengatasi sebuah derita (pain) dan usaha lebih (effort) dalam mencapai tujuannya akan menjadi sebuah simbol yang bermakna. Kegiatan penuh penderitaan tersebut menjadi sebuah aktivitas simbolik dari efek martir atas perjuangannya. Sehingga, nilai bermakna dan simbol martir adalah sumber penting untuk seseorang berjuang.
Sehingga, kegiatan penggalangan dana dengan melibatkan sebuah makna dapat meningkatkan jumlah donasi yang didapatkan, meskipun kegiatan tersebut melibatkan sebuah “penderitaan”. Oleh karena itu, seseorang yang terlibat pada aksi penggalangan dana yang melibatkan penderitaan menjadikan sebuah simbol martir, dan kemudian berkontribusi lebih banyak dalam memberikan donasi.
Belakangan ini berbagai aksi penggalangan dana yang menggunakan prinsip martir dapat kita temui di sekitar kita. Hal-hal sulit dan penuh derita ternyata memicu seseorang untuk memberikan donasi lebih.
Selain dalam memberikan donasi, keterlibatan suatu penderitaan dilakukan juga untuk meningkatkan kepedulian kita terhadap suatu isu. Misalnya beberapa tahun lalu sempat ramai tantangan berupa ice bucket challenge, yang mana mengajak orang lain untuk mengguyur tubuh (khususnya kepala) dengan sebaskom es.
Tantangan tersebut dilakukan agar ikut merasakan penderitaan Amyotrophic Lateral Sclerosis atau gangguan saraf yang dapat memicu kelumpuhan. Dengan begitu, seseorang akan lebih peduli dengan isu yang diangkat. Efek martir sangat erat dengan perjuangan seseorang, sebab karena itu untuk semua yang sedang berjuang dalam kehidupan ini, selamat berjuang!
Oh, sebagai pengingat, bukan berarti dibenarkan untuk seseorang menyiksa diri, ya! Kita tetap harus menghargai segala kehidupan ini, dan sekali lagi angkat gelas untuk kita semua yang terus berjuang dalam menghadapi hidup ini.
Stay safe!
Referensi
Kaufman, B. E. (1999). Exploring the behavioral foundations of labor economics. Industrial and Labor Relations Review, 52, 361–392.
Lane, R. E. (1992). Work as “disutility” and money as “happiness”: Cultural origins of a basic market error. Journal of Socio- Economics, 21, 43–64.
Loewenstein, G. (1999). Because it is there: The challenge of mountaineering… for utility theory. Kyklos, 52, 315–344.
Olivola, C. Y., & Shafir, E. (2013). The Martyrdom Effect: When Pain and Effort Increase Prosocial Contributions. Journal of behavioral decision making, 26(1), 91–105. doi:10.1002/bdm.767