Lewati ke isi
Psikologi untuk dibaca semua orang.

Ghost Games: Dampak Psikologis Kursi Penonton yang Kosong bagi Daya Tarung Pemain

Pandemi datang, dan mengubah banyak hal. Perubahan terjadi juga di pertandingan sepak bola. Pada olahraga, bertanding di lapangan merupakan suatu keadaan yang sakral, karena di sana tersedia gelora sorak-sorai penonton. Kehadiran penonton yang memberikan dukungan merupakan unsur penting pada setiap pertandingan.

Namun, selama pandemi kehadiran penonton tidak ada atau minim. Demi keselamatan bersama, dan menghindari dampak buruk dari pandemi, maka pertandingan olahraga pun menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Hal ini harus dilakukan jika tidak diterapkan akan berisiko bagi semua pihak.

Oleh karena itu, khususnya sepak bola Eropa menerapkan sistem ghost games, yakni penerapan jaga jarak sosial yang ketat dengan meniadakan penonton atau membatasi dalam jumlah yang sangat sedikit. Dampaknya, kehilangan gemuruh sorak-sorai yang penuh gelora untuk para pemain yang bertanding.

Pertanyaan selanjutnya, memangnya seberapa besar pengaruh ghost games bagi pemain yang bertanding di lapangan? Ternyata berdasarkan penelitian yang dilakukan, ghost games memutar balik keadaan psikologis pemain. Dampaknya adalah pengaruh pertandingan kandang dan tandang menjadi terbalik alias home away effect berputar 180 derajat.

Sebelumnya, diketahui bahwa pertandingan kandang di sepak bola memiliki kesempatan menang yang lebih besar, dibandingkan dengan pertandingan tandang. Berbeda selama pandemi yang menerapkan ghost games, pertandingan kandang justru menghasilkan banyak kekalahan dibandingkan bertanding di tandang.

Hal ini disebabkan karena pengaruh psikologis yang berbeda selama ghost games, sehingga pemain menghasilkan performa yang berbeda pula. Ketiadaan kehadiran penonton ternyata sangat berpengaruh pada performa atlet selama bertanding, khususnya sepak bola. Tanpa penonton daya juang pemain menjadi lebih rendah. Tidak hanya itu, ternyata memunculkan tindakan agresi yang lebih tinggi.

Fenomena ghost games selama pandemi mengubah keadaan psikologis pemain. Melihat sudut pandang ini, membuktikan bahwa pengaruh psikologis sangat penting untuk performa atlet dalam bertarung di lapangan hijau.

Hilangnya Sorak-sorai Penonton

Bertanding di kandang merupakan kesempatan emas bagi tim sepak bola, karena di sana memiliki kesempatan menang lebih besar dibandingkan bertanding di tandang. Namun, hal itu tidak terjadi lagi, pandemi mengubah fenomena tersebut.

Saat ini, bertanding di kandang di masa pandemi justru menciptakan kekalahan lebih tinggi. Sehingga, untuk mendapatkan poin dari kemenangan pada pertandingan kandang menjadi lebih sulit. Semua itu disebabkan karena diterapkan ghost games.

Selama dilaksanakan sistem ghost games, yakni pertandingan tanpa atau minim penonton telah menciptakan keadaan psikologis yang berbeda bagi pemain yang bertanding di lapangan. Sorak-sorai dan dukungan dari penonton tidak bisa dirasakan oleh pemain.

Kekosongan sorak-sorai penonton tersebut yang menyebabkan pemain kehilangan dukungan dari para pendukung di kandang (home crowd). Ketiadaan penonton, sepinya sorak-sorai, dan tidak adanya tepuk tangan penonton membuat pemain merasa canggung. Keadaan tersebut bukan hal umum yang biasa dirasakan oleh pemain. Oleh karena itu, para pemain merasakan atmosfer yang berbeda selama bertanding saat ghost games.

Perbedaan atmosfer selama ghost games menghasilkan performa bertanding yang buruk, karena menghadapi keadaan yang tidak pada biasanya, daya juang atlet untuk bertanding jadi lemah. Hal ini yang menyebabkan gairah bertanding (arousal) dan semangat serta dorongan bertanding (drive) jadi hilang.

Dapat dijelaskan bahwa kehadiran penonton yang membuat penonton menjadi semangat untuk berjuang di lapangan, sedangkan jika tidak ada penonton membuat daya juang jadi lemah. Penonton atau teriak dukungan untuk pemain adalah sumber pemain untuk menciptakan gairah bertanding (arousal) yang lebih tinggi. Sehingga semangat dan daya juang pun menjadi lebih baik demi mencapai tujuannya (drive), yakni menang dan menghasilkan poin di akhir pertandingan.

Sebab karena itu, bertanding tanpa penonton menghilangkan semangat dan daya juang untuk bertanding di lapangan. Tidak ada penonton, meredupkan gairah (arousal) pemain. Tanpa dukungan dari para fans, menghilangkan dorongan (drive) yang mungkin dapat menghasilkan performa terbaik para pemain.

Meningkatnya Agresivitas dan Kartu Kuning

Selain kehilangan potensi kemenangan di pertandingan kandang, ternyata pemain yang juga kehilangan dukungan penonton menjadi lebih agresif. Jumlah menjegal kaki lawan lebih banyak dibandingkan ketika sebelum pandemi, saat ada penonton dan sorak sorai dukungan.

Keadaan ini bisa juga disebabkan karena rasa frustasi para pemain yang tidak terbiasa dengan pertandingan minim dukungan penonton. Sebab itu, para pemain mengkompensasi penurunan performanya dengan menjegal bola, yang berujung pada tindakan agresif dalam merebut bola di kaki lawan.

Semakin sering menjegal dalam merebut bola akan membuat kemungkinan kartu kuning lebih tinggi dari wasit. Fenomena ini pun terjadi selama ghost games, para pemain lebih sering mendapatkan kartu kuning di pertandingan kandang.

Di samping karena bentuk frustasi pemain yang disalurkan melalui menjegal bola dari kaki lawan, dan memicu tindakan agresivitas yang berbahaya cedera pada pemain lawan. Namun, hal itu disebabkan juga karena wasit dapat lebih objektif dalam menilai pelanggaran, karena wasit tidak mendapatkan tekanan dari penonton jika mengeluarkan banyak kartu kuning.

Berbeda ketika penonton mengisi kursi stadion, wasit memiliki tekanan jika memberikan kartu kuning. Wasit secara sadar tidak sadar terpengaruh oleh kehadiran para fan yang bersorak-sorai. Sehingga, wasit memperhitungkan dengan berhati-hati ketika ingin memberikan kartu kuning. Namun, selama ghost games, wasit tidak perlu khawatir akan tekanan dari penonton. Dan sebab itu, wasit dapat memberikan kartu kuning jadi lebih objektif.

Hasilnya pun penerimaan kartu kuning pada pertandingan kandang jadi meningkat. Berbagai kerugian muncul selama pertandingan kandang saat ghost games diterapkan. Pertandingan tanpa penonton menurunkan gairah dan daya juang pemain di lapangan. Kompensasinya pun memicu frustasi pemain dan menghasilkan tindakan agresif yang berujung pada penerimaan kartu kuning.

Maka dari itu, pertandingan kandang di masa pandemi menjadi petaka bagi para pemain yang bertanding di lapangan. Meski begitu, fenomena ini sangat menarik jika dilihat dari sudut pandang psikologi olahraga, dan pengkajian atau riset pada fenomena ini akan memperkaya khazanah psikologi olahraga.

Pada fenomena ini juga membuktikan bahwa penonton merupakan bagian dari jiwa pemain selama bertanding, tanpa penonton separuh jiwa dari pemain hilang. Lalu, performa menurun dan menyebabkan kekalahan dalam bertanding. Bagi para fan dan pencinta sepak bola, jangan ragu untuk terus memberi dukungan pada tim favorit agar mereka dapat terus memberikan performa terbaiknya.

Referensi

Leitner, M. C., & Richlan, F. (2020, September 9). Sport Psychological Effects of Missing Supporters in European Elite Football during the COVID-19 Pandemic. Draft version 2 17-12-2020. https://doi.org/10.31234/osf.io/jqus9