Bersama Kesenangan Kita Terpacu, pada Penderitaan Kami Diam-diam Mengabdi!
Ingin hidup bahagia adalah tujuan hampir semua manusia. Berbagai kisah dongeng, film, buku dan balada lainnya banyak menyajikan akhir yang bahagia. Sebagian kita mungkin menyederhanakan segala ingin agar dapat hidup bahagia. Sederhana memang, tetapi apakah hidup bahagia itu mudah diraih?
Pertanyaan tersebut mungkin akan mendapatkan jawaban yang beragam. Sebagian dari kita merasa mudah mendapatkan kebahagiaan, sebagian lagi mungkin sulit mendapatkannya. Proses mendapatkan kebahagiaan setiap manusia memang tidak sama.
Perbedaan mendapatkan kebahagiaan setiap manusia memang unik, dengan begitu kita semua punya proses masing-masing. Tidaklah heran jika kita punya kegiatan beraneka ragam yang selalu menjadi kuncian agar menciptakan kebahagiaan untuk diri sendiri. Oleh karena itu, kita melakukan hobi, aktivitas yang menarik, interaksi dengan orang yang disuka, dan sebagainya untuk merasakan kebahagiaan.
Meskipun begitu, pada dasarnya manusia terdorong pada dua hal, yakni; motivasi untuk mendapatkan kesenangan, dan motivasi untuk menghindari hal negatif. Motivasi untuk mendapatkan kesenangan yang dapat memicu perasaan bahagia. Kemudian, motivasi menghindari perasaan negatif adalah cara manusia terhindar dari hal-hal yang membuat sedih, marah, kecewa dan perasaan negatif lainnya.
Dengan begitu, manusia selalu terdorong pada hal yang membuat dia merasa nyaman, aman atau senang (pleasure) dan menghindari hal-hal yang mampu menciptakan perasaan tidak enak atau menderita (pain). Ibaratnya, kesenangan (pleasure) dan penderitaan (pain) adalah kompas manusia dalam menentukan perilaku mereka.
Manusia selalu memperhitungkan kesenangan (pleasure) dan penderitaan (pain) selama bertindak atau berperilaku. Jika suatu hal diduga akan mendapatkan kesenangan (pleasure) maka seseorang akan lebih suka melakukan hal tersebut, sebaliknya jika satu kegiatan diduga mampu menghadirkan perasaan yang membuat menderita (pain) maka ada kecenderungan untuk menghindari kegiatan tersebut.
Lalu, kembali pada proses manusia dalam mendapatkan kebahagiaan yang berbeda-beda. Menariknya, manusia merupakan makhluk yang rumit. Salah satunya dalam mendapatkan kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Walaupun sudah disebutkan bahwa sesuatu yang menghadirkan penderitaan (pain) cenderung dihindari agar tidak membuat kita menjadi sedih, marah ataupun kecewa.
Namun, sebagian dari kita mungkin perlu merasakan penderitaan terlebih dahulu agar dapat merasakan kebahagiaan. Hal ini disebut sebagai hedonic puzzle.
Hedonic Puzzles
Hedonic Puzzles adalah situasi di mana seseorang dengan sengaja menghindari hal dasar yang memicu kenikmatan dan secara aktif mencari pengalaman yang dapat menghasilkan penderitaan dan terkadang memerlukan usaha berlebih.
Berbagai kegiatan hedonic puzzles sebenarnya banyak terjadi di sekitar kita. Mungkin salah satu kegiatan tersebut pernah kita lakukan. Bagaimana kita mendapatkan kebahagiaan melalui sebuah proses yang memicu penderitaan, rasa sakit, tidak nyaman ataupun usaha berlebih itu.
Sebagai contoh adalah memakan makanan pedas. Indonesia terkenal dengan berbagai varian sambal, dan banyak dari masyarakat Indonesia merupakan pencinta makanan pedas. Padahal jika dipikirkan sejenak, memakan makanan pedas menimbulkan berbagai konsekuensi yang menyakitkan. Misalnya, rasa pedas yang dapat melukai organ tubuh seperti usus dan lambung, rasa sakit di mulut, perut, dan berbagai efek yang tidak nyaman (seperti keringat berlebih).
Sesungguhnya memakan cabai atau sambal berlebih tersebut mampu memicu rasa sakit. Namun, mengapa kita tetap menyukai memakan sambal? Hal tersebut lah yang dinamakan hedonic puzzles, kita memiliki kecenderungan untuk menikmati rasa sakit dan menjadikan hal tersebut kesenangan.
Tidak hanya memakan makanan pedas saja yang merupakan kegiatan hedonic puzzles. Sebagian dari kita juga menyukai kegiatan aktivitas luar ruangan seperti mendaki gunung. Bayangkan saja, seseorang mendaki gunung memerlukan banyak usaha ekstra, dimulai dari persiapan yang luar biasa (perlengkapan, latihan fisik, pengetahuan dasar) lalu proses mendaki gunung yang memerlukan kesiapan mental dan penuh bahaya. Kegiatan mendaki gunung bukanlah kegiatan yang aman dilakukan, dan memiliki risiko yang tinggi. Seperti kita tahu korban jiwa dalam mendaki gunung sering terjadi.
Namun, tetap saja orang-orang menyukai kegiatan mendaki gunung, walaupun ada banyak risiko yang dihadapi. Selain risiko, pendaki gunung harus melakukan upaya lebih dalam mencapai puncak, dan bertahan di alam liar (meski cuma beberapa hari). Semua hal tersebut dilakukan demi mendapatkan kesenangan.
Contoh lainnya adalah menonton film horor. Kegiatan ini digemari oleh banyak orang, padahal selama menonton hanya disajikan ketakutan yang tentu saja perasaan itu sangat tidak nyaman. Apalagi jika kita menonton di bioskop, seseorang perlu mengeluarkan kocek lebih untuk menonton film yang membuat penontonnya merasa takut. Ketegangan dan ketakutan yang dirasakan selama menonton film horor adalah proses kita mendapatkan sebuah kebahagiaan, meskipun harus melalui rasa tidak nyaman dahulu.
Memakan makanan pedas, mendaki gunung, dan menonton film horor merupakan salah satu hedonic puzzles. Kegiatan tersebut tentu dengan sengaja mencari ketidaknyamanan, rasa sakit, ataupun usaha ekstra demi mendapatkan kebahagiaan.
Meski diwarnai dengan rasa tidak nyaman dan penuh derita, tentu saja seseorang yang melakukan aktivitas hedonic puzzles sangat menikmatinya.
Jadi, dari sekian banyak aktivitas hedonic puzzles yang dilakukan oleh manusia. Apakah sebenarnya manusia merupakan mengabdi pada penderitaan dan kesusahan itu sendiri?
Referensi
Olivola, C. Y., & Shafir, E. (2013). The Martyrdom Effect: When Pain and Effort Increase Prosocial Contributions. Journal of behavioral decision making, 26(1), 91–105. doi:10.1002/bdm.767