Lewati ke isi
Psikologi untuk dibaca semua orang.

Mengenalkan Perilaku Prososial dan Menumbuhkan Empati pada Anak

Akhir-akhir ini banyak sekali informasi mengenai parenting. Semua itu terjadi karena kebanyakan dari kita mulai sadar, betapa pentingnya peran orang tua dalam mendidik anak. Sadar tidak sadar, menjadi orang tua perlu banyak belajar. Meskipun begitu, proses belajar menjadi orang tua yang baik bagaikan sekolah kehidupan tanpa akhir.

Menjadi orang tua, artinya adalah siap belajar. Ya, belajar dari apa pun, bahkan ya orang tua bisa belajar banyak dari anak sendiri. Luar biasa, bukan? Begini lah mendidik anak. Penuh tantangan, dan halang rintang.

Meski, mendidik anak bisa dibilang gampang-gampang susah. Namun percayalah, selagi kita belajar pasti ada jalan. Pasti terpikir seperti; kira-kira apa yang harus dipelajari dan dipersiapkan untuk menjadi orang tua?

Banyak faktor yang perlu dipersiapkan, lho. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah mengenalkan dunia luar pada anak. Mengapa sedemikian penting mempersiapkan hal ini? Karena dunia luar adalah panggung luar biasa luas untuk anak belajar. Anak-anak bisa belajar banyak dari berinteraksi dengan dunia luar. Namun, ingat ya, bahwasannya anak-anak perlu juga tuh dibimbing agar mereka dapat merespon dunia luar dengan bijak.

Nah, berbicara soal interaksi dunia luar. Ada salah satu faktor yang teramat penting untuk anak sesegera mungkin mempelajarinya, yakni perilaku prososial. Hihi, kali ini saya mencoba membahas perilaku prososial pada anak.

Kenapa sih? Kok harus prososial? Apa hubungannya dengan mengenalkan dunia luar pada anak?

Tenang-tenang, yuk kita bahas satu-satu dulu.

Sebelum masuk lebih dalam, kita perlu tahu dulu nih, apa itu prososial. Pada dasarnya perilaku prososial adalah perilaku tolong menolong sesama. Bisa dengan teman, adik, kakak, guru, dan bahkan orang tua sendiri, lho.

Jadi tidak perlu jauh-jauh mengenalkan pola prososial ke orang lain dari luar keluarga, bisa dimulai dari lingkup paling kecil dulu, yakni keluarga. Oh, iya, di dalam perilaku prososial banyak hal yang dapat dipelajari, lho.

Mengapa demikian? Karena pada prososial, anak-anak akan lebih memahami diri sendiri dan orang lain. Spektrumnya jadi lebih luas, karena melibatkan banyak pihak. Tidak soal si anak itu sendiri, tetapi ada orang lain yang harus diperhitungkan. Keterlibatan emosional, kognitif, dan nilai budaya selama melakukan prososial akan berdampak banyak pada anak.

Jika, anak mempelajari prososial lebih cepat, anak-anak juga akan lebih cepat juga belajar soal tanggung jawab. Karena anak-anak memiliki peran dalam kehidupan sosial. Anak-anak akan sadar kalau ia tidak hidup sendiri di dunia ini. Banyak pihak yang hadir di dunia ini. Nah, di sisi ini anak-anak akan belajar mengenai interaksi dengan dunia luar, bukan? Oleh karena itu, perilaku prososial dapat menjembatani dalam proses belajar memahami dunia untuk sang anak.

Menarik kan? Pasti dong!

Yuk, kita pelajari perlahan dengan seksama bagaimana menumbuhkan prososial yang baik pada anak.

Peran orang tua menumbuhkan prososial

Sebelum lebih lanjut, ada baiknya kita kembali pada definisi awal dari prososial itu sendiri. Menurut Eisenberg dkk (2015), menyatakan bahwa perilaku sosial dapat didefinisikan suatu perilaku secara sukarela dalam membantu, menolong, saling berbagi, bekerja sama, atau berdonasi. Tentu saja, tujuan dari prososial adalah memberikan manfaat untuk orang lain.

Berdasarkan definisi tersebut, dalam perilaku prososial akan banyak yang dipelajari oleh anak. Namun, ingat ya, bahwa peran orang tua di sini sangat penting untuk memastikan bahwa perilaku prososial anak tumbuh dengan tepat. Ada beberapa langkah yang perlu dipahami orang tua agar dapat membimbing anak menumbuhkan perilaku prososial, yakni: kehangatan hubungan orang tua-anak, belajar mengekspresikan emosi, dan penguatan perilaku prososial.

Kehangatan Hubungan Orang Tua – Anak

Sadar ga sadar, orang tua itu punya peran penting dalam memperkenalkan dunia kepada sang anak. Namun, peran orang tua yang seperti apa agar anak menjadi lebih maksimal dalam mengenal dunia? Yap, hubungan orang tua yang penuh kehangatan. Ini sangat penting, krusial!

Beberapa penelitian menunjukan, peran orang tua sangat vital dalam menjalin hubungan anak dengan dunia. Peran orang tua pun mampu menjadi moderasi yang baik menumbuhkan empati.

Nah, berbicara soal empati, merupakan faktor yang teramat penting dalam menumbuhkan prososial. Dengan kuatnya empati seseorang, biasanya akan semakin baik pula perilaku prososial. Kemudian, salah satu menumbuhkan empati pada anak adalah kehangatan orang tua pada anaknya.

Ngomong-ngomong soal kehangatan hubungan orang tua dan anak, pasti pada kepikiran kan, apa yang aja jelasnya kehangatan itu?

Kehangatan hubungan orang tua yang dimaksud adalah merujuk pada orang tua yang suportif, penuh kasih sayang, dan memiliki interaksi yang responsif. Ketiga hal tersebut diperlukan dalam membangun hubungan yang penuh kehangatan antara orang tua dan anak. Dengan ketiga hal tersebut akan membuat anak menjadi lebih dihargai, dan diakui keberadaannya.

Dari ketiga faktor tersebut, mungkin yang perlu diperhatikan lebih lanjut mengenai menjadi orang tua yang responsif. Hal ini penting, banyak di antara kita yang mungkin sedikit lebih lamban dalam merespons perilaku anak. Jika sang anak mendapatkan respons lebih lambat, biasanya akan muncul perasaan kurang diperhatikan atau dihargai. Jadi ya, sesibuk apa pun kita, kalau bisa secepat mungkin dalam merespons perilaku anak.

Ketiga faktor tadi jika dijalankan sepenuh hati akan menguatkan perilaku prososial karena anak sudah terbiasa pada perilaku yang penuh kasih sayang, kerja sama, suportif, dan mengasihi. Perilaku prososial tersebut dipelajari anak sebagaimana seperti kehangatan hubungan dengan orang tua yang anak dapati. Oleh karena itu, anak jadi terbiasa dengan berbuat baik, dan menjaga satu sama lain. Jika demikian, anak menyadari bahwa hidup ini bukan soal dirinya sendiri, tetapi ada orang lain yang mesti diperhitungkan.

Belajar Mengekspresikan Emosi

Mengenal dan mengutarakan emosi itu penting. Pada dasarnya setiap anak merupakan individu yang bebas, ia memiliki emosi dan perasaannya sendiri. Jangan sampai orang tua mengabaikan emosi/perasaan anak. Orang tua harus peka dalam memahami perasaan anak, dengan begitu anak menjadi lebih cepat mengerti keadaan dengan baik.

Sangat disayangkan jika orang tua berpikir anak-anak masih belum mengerti atau malah menganggap berlebihan setiap perasaan dan emosinya. Jika melihat anak menangis, marah, dan sedih, jangan sampai orang tua menganggap itu hal biasa serta mengabaikan faktor emosi sang anak.

Padahal, emosi anak semakin cepat dipahami akan mempermudah buah hati mengembangkan perilaku prososial dan empatinya kelak. Oleh karena itu, orang tua tidak boleh mengabaikan atau mereduksi perasaan anak. Anak-anak memiliki perasaan yang harus dihargai, dan orang tua harus memberi kesempatan seluas-luasnya kepada anak agar mengutarakan emosinya.

Hal ini sejalan dengan peran orang tua untuk memberikan ruang aman bagi anak mengutarakan pendapatnya. Memberi keamanan dalam berpendapat, dan memvalidasi setiap emosi anak adalah peran orang tua membantu serta mengarahkannya. Orang tua harus dapat membimbing dan mengajari bagaimana bersikap pada setiap emosi yang dirasakan.

Selanjutnya, peran orang tua pada tahap ini adalah memberikan pengarahan dan membimbing anak dalam mengenal emosinya. Tidak hanya itu, orang tua juga harus selalu memastikan bahwa setiap manusia memiliki perasaan. Orang lain bisa terluka perasaannya karena suatu hal, maka dari itu anak perlu menghargai juga perasaan orang lain.

Belajar mengenai emosi pada anak, dan memberi ruang aman bagi anak mengekspresikan adalah cara orang tua untuk menumbuhkan empati serta perilaku prososial. Di sini anak akan belajar banyak hal, salah satunya tentu mencoba mengontrol emosi dan perasaannya sendiri.

Sebelum kita meminta anak menghargai perasaan orang lain, tentu perlu dan teramat penting untuk anak menghargai perasaanya sendiri, kan? Pada akhirnya anak pun berusaha memahami emosi orang lain, karena sang anak sudah diajarkan memahami emosi atau menghargai perasaan.

Orang tua perlu mengendalikan emosinya, anak perlu memahami emosinya. Pada tahap ini orang tua dan anak sama-sama belajar, lho. Jadi, baik orang tua dan anak akan sama-sama belajar. Saling mengenal satu sama lain, dan tentu sama-sama menghargai.

Penguatan Perilaku Prososial

Bila sudah menjalin hubungan hangat antara orang tua dan anak, lalu mengenalkan emosi pada anak. Kemudian, langkah selanjutnya adalah memberikan penguatan terhadap perilaku prososial. Pada tahap ini, perilaku prososial biasanya sudah tumbuh dengan baik pada anak.

Peran orang tua selanjutnya tentu menguatkan perilaku prososial tersebut. Mendorong anak untuk tetap saling menolong satu sama lain, saling mengerti dan peduli. Dengan begitu anak akan menjadi mematangkan perilaku prososial.

Pemberian stimulus berupa hadiah yang “wah” tidak begitu disarankan pada tahap ini. Ketika anak melakukan kebaikan dengan perilaku prososialnya, lalu diberikan kado yang luar biasa mewah, hal tersebut akan membuat anak hanya terpaku pada hadiah. Memang agak tricky pada tahap ini, sebenarnya boleh dan sah saja untuk memberikan hadiah ketika anak melakukan sesuatu yang hebat. Namun, orang tua harus bijak agar anak tidak menilai perilaku prososialnya berdasarkan hadiah.

Berbagai penelitian menyatakan bahwa, pemberian hadiah yang baik adalah sesuatu yang tak ternilai harganya. Hadiah tak ternilai tersebut dapat berupa sebuah penghargaan dari orang tua, pujian selayaknya, atau obrolan hangat yang menumbuhkan rasa percaya diri anak. Hadiah dengan non-material memiliki dampak luar biasa pada anak, dan cenderung dapat memupuk perilaku prososial lebih kuat.

Maka dari itu, orang tua jangan ragu memberikan penghargaan atau berupa selamat kepada anak yang berhasil melakukan perilaku prososial. Ah, iya, perilaku prososial tidak harus dengan membantu dan menolong sesama aja lho. Ketika anak menahan diri untuk tidak melukai orang lain, hal tersebut sudah menjadi bagian dari perilaku prososial, karena sang anak memperhatikan perasaan lawannya. Pada saat anak tidak melukai/membalas perbuatan jahat orang lain, saat itu juga anak tersebut menghargai orang lain.

Perlu diingat juga, perilaku prososial yang dimaksud bukan seperti pahlawan super yang ke sana kemari menolong orang. Sekadar memperhatikan dan memedulikan orang lain, hal tersebut sudah dapat jadi bagian dari prososial. Sederhananya, hubungan antara orang tua dan anak yang saling menghargai satu sama lain juga sudah bisa disebut prososial. Jadi, jangan berpikir jauh-jauh dulu. Semua bisa bermula dari rumah, dimulai dari keluarga.

Menjadi orang tua adalah proses belajar yang tanpa akhir. Sebelum mengajarkan anak untuk ini dan itu, baiknya orang tua pun juga mempersiapkan diri untuk lebih baik. Jika ingin mengajarkan anak menjadi prososial, tentu orang tua juga harus memberi contoh menjadi individu prososial. Jangan sampai, menyuruh anak untuk menolong dan menghargai perasaan orang lain, tetapi orang tuanya bersikap berlawanan. Hih, semoga ga gitu, ya.

Penyunting: Yogi Pambudi

Referensi

Spinrad, T. L., & Gal, D. E. (2018). Fostering prosocial behavior and empathy in young children. Current opinion in psychology, 20, 40–44. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2017.08.004