Lewati ke isi
Psikologi untuk dibaca semua orang.

Mengenal Lebih Dekat: Stereotip, Prasangka, dan Diskriminasi dalam Psikologi

Photo by Oliver Cole on Unsplash

Ada beberapa kata yang sering kita dengar, atau bahkan di antara kita sudah mulai sering menyebutnya. Yaitu, stereotip (stereotype), prasangka (prejudice), dan diskriminasi, ketiga kata tersebut sering dibahas dalam psikologi sosial, khususnya dalam interaksi kelompok.

Tidak hanya dalam psikologi, beberapa keilmuan lainnya juga sering menggunakan ketiga kata tersebut. Bahkan dalam artikel populer dan berita pun sudah mulai sering menggunakannya.

Dalam psikologi sosial, ketiga kata itu mendapatkan banyak perhatian, dan sudah banyak kajian serta penelitian yang membahas fenomena tersebut.

Ketiga hal tersebut mungkin memiliki kemiripan satu sama lain, tetapi jika dikaji lebih jauh, ketiganya memiliki perbedaan. Meskipun ketiganya telah menunjukan bahwa memiliki keterkaitan satu sama lain.

Stereotip (Stereotype)

Seabad yang lalu Lippman (1922) menyatakan bahwa stereotip adalah “gambaran yang muncul di kepala kita,” gambaran apapun yang terlintas di kepala kita mengenai orang lain, yang biasanya gambaran tersebut didapatkan dari pengetahuan sebelumnya. Baik pengetahuan secara langsung atau tidak langsung, dan kemudian menjadikan penilaian secara umum terhadap orang lain.

Pemahaman yang didapat mengenai orang lain menjadi informasi atau pengetahuan dasar untuk menghadapi orang lain yang tentu memiliki kategori yang mirip. Misalnya kita bertemu dengan seseorang dari suku Jawa yang pendiam, dan kemudian menganggap bahwa seluruh orang Jawa adalah pendiam.

Yang awalnya pengetahuan itu didapatkan dari satu orang, dan kemudian digeneralisasi ke seluruh kelompoknya (jika tadi bertemu satu orang Jawa, dan kemudian pengetahuan yang didapat disesuaikan dengan orang Jawa secara keseluruhan).

Stereotip merupakan suatu keyakinan dan pendapat tentang karakteristik, atribut dan perilaku dari anggota kelompok tertentu (Hilton & von Hippel, 1996). Lebih jelasnya, terdapat beberapa aspek kunci tentang stereotip.

Pertama, stereotip merupakan gambaran seseorang terhadap orang lain yang terlintas di kepala atau pikiran kita, dan biasanya keyakinan dan penilaian terhadap orang lain tersebut diiturunkan melalui pemahaman kultural yang turun temurun (Jones, 1997). Biasanya terdapat nilai dan pemahaman yang diturunkan dari orang tua untuk anaknya, dan hal ini memunculkan atau melanggengkan sebuah stereotip terhadap suatu kelompok.

Meskipun setiap stereotip yang didapatkan dari pemahaman kultural juga dibentuk oleh pemahaman tiap individu itu sendiri. Oleh karena itu terdapat perkembangan dari stereotip yang diturunkan dari orang tua ke anaknya.

Kedua, tidak selamanya stereotip atau pemahaman yang dimiliki mengenai orang lain itu akurat. Stereotip didapatkan dari sebuah observasi mengenai satu subjek lalu digeneralisir ke seluruh kelompok, maka dari itu banyak pemahaman kita mengenai suatu kelompok menjadi bias karena sudah memiliki pemahaman yang salah.

Ketiga, stereotip dapat menjadikan sebuah konsep dalam membentuk orang lain, karena dengan adanya pemahaman tentang orang lain, stereotip itu sendiri dapat menggambarkan dan mengarahkan orang lain berperilaku di masyarakat (Prentice & Carranza, 2002). Konsep ini yang membentuk sebuah norma sosial.

Stereotip dapat menggambarkan dan mengarahkan seseorang di konteks sosial. Misalnya stereotip mengenai perempuan yang tugasnya di dapur, sehingga masyarakat memiliki konsep bahwa perempuan harusnya ada di dapur, dan kemudian mengarahkan seseorang untuk berperilaku sesuai dengan stereotip yang digambarkan.

Terakhir, meskipun banyak stereotip yang menggambarkan sisi negatif mengenai orang lain, tetapi perlu disadari juga bahwa ada pemahaman atau stereotip positif. Di dunia barat terkenal bahwa ras Asia sangat berbakat di bidang matematika, ras Afrika di bidang atletik, dan seterusnya.

Empat aspek kunci tersebut yang menjelaskan mengenai stereotip.

Prasangka (Prejudice)

Dalam ilmu sosial, prejudice atau prasangka dapat dimaknai sebagai suatu perasaan atau emosi terhadap orang lain di mana ketika kita akan berinteraksi. Prasangka adalah suatu sikap langsung terhadap orang lain pada kelompok sosial tertentu (Brewer & Brown, 1998).

Prasangka merupakan sikap terhadap orang lain yang merupakan evaluasi yang kita bayangkan semenjak dalam pikiran kita sendiri. Evaluasi yang kita pikirkan terhadap orang lain tersebut biasanya melibatkan emosi.

Unsur yang paling sering didapati adalah perasaan atau emosi mengenai penerimaan dan penolakan terhadap orang lain. Jika stereotip adalah suatu bayangan dan penilaian dari suatu kelompok, sedangkan prasangka adalah penilaian terhadap orang lain yang sudah menjurus antara suka dan tidak suka pada orang tersebut.

Stereotip memiliki peran untuk menguatkan prasangka yang dimiliki seseorang terhadap kelompok atau individu tertentu. Reaksi prasangka mengenai perasaan negatif atau positif terhadap kelompok dan individu dapat secara eksplisit atau implisit. Hal itu tergantung seberapa kuat penilaian kita (baik negatif atau positif) terhadap seseorang.

Diskriminasi

Diskriminasi adalah tindakan yang memperlakukan orang dengan cara yang berbeda dibandingkan kelompok lainnya (Sue, 2003). Sederhananya bila seseorang dapat mengakses hak dan kebutuhan secara sepenuhnya, tetapi jika dihadapi dengan diskriminasi akan terjadi pemotongan hak yang terjadi.

Prinsip egaliter dan setara satu sama lain tidak dapat diterapkan dalam keadaan diskriminasi. Perilaku yang timbul dari diskriminasi adalah tindakan negatif yang biasanya perampasan sebuah hak seseorang. Diperlakukan berbeda dari orang lain tentu tidak menyenangkan.

Pada tahap ini juga akan mendapatkan posisi ketidakadilan. Karena ada prinsip kesetaraan satu sama lain telah dilanggar, hal ini biasanya diperkuat dengan adanya stereotip dan prasangka. Kemudian diterapkan ke dalam suatu perilaku yang disebut dengan diskriminasi.

Diskriminasi dapat terjadi di berbagai level masyarakat. Dari lingkup terkecil seperti interaksi individu ke individu, hingga diskriminasi dari negara ke individu atau kelompok lainnya.

Stereotip, prasangka, dan diskriminasi merupakan studi tentang interaksi dengan orang lain. Dengan memahami konsep dari ketiga hal tersebut, maka dapat pula kita melakukan pendekatan untuk melakukan penurunan perilaku tidak adil yang disebabkan dari stereotip, prasangka dan diskriminasi.

Referensi

Whitley, B. E., & Kite, M. E. (2016). Psychology of prejudice and discrimination.